07/06/10

Milad Ketiga Goodreads Indonesia (7 Juni 2007 - 7 Juni 2010)



YOGYAKARTA:
'Plesiran Nonton Ringin' GRI Jogja
Hari, Tanggal: 23 Mei 2010
Pukul jam 14.00 – 16.00 WIB
Tempat: Alun-alun selatan

BOGOR:
Hari, Tanggal: Jumat, 28 Mei 2010
Pukul 08.00 WIB - selesai
Acara :
1. Kunjungan ke rumah Pramoedya Ananta Toer (PAT)
2. Kunjungan dan sumbang buku ke Taman Bacaan "Baroedak"
3. Wisata kuliner ke jalan Surya Kencana
4. Karaoke

BANDUNG:
Hari, Tanggal: Sabtu, 12 Juni 2010
Pukul 08.30 WIB sampai selesai
Tempat : HIROS Futsal, Jl. Pahlawan 43 Bandung
dan dilanjutkan di Resep Moyang Cafe & Resto

JAKARTA:
Hari, Tanggal: Minggu, 13 Juni 2010
Pukul: 10.00 WIB sampai selesai
Tempat: Celcius Cafe, Jl. Balap Sepeda No. 6 Blok H Persil
Rawamangun, Jakarta Timur, Indonesia

26/05/10

Surat Terbuka untuk Pembaca Aktif di Goodreads Indonesia

Jakarta, 7 Mei 2010

Para pembaca aktif yang terhormat,

Sebulan lagi, kita akan menyongsong milad ke-3 komunitas pembaca Goodreads Indonesia yang (semoga) akan kita rayakan dengan mengadakan Kopdar Serentak di berbagai kota. Ada arti penting di balik kesan seremonial yang mungkin belum banyak dipahami semua kita, maka ada baiknya dibeberkan kembali lewat surat ini.

Menurutku, yang hendak dirayakan adalah bukan semata bertambahnya jumlah anggota --4x lipat dari kali pertama kopdar Goodreads Indonesia diadakan, dari 900-an orang menjadi 3.500-an orang--, akan tetapi yang jauh lebih penting adalah:

1. Membentuk komunitas pembaca yang aktif bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan.

Aku masih ingat betul saat-saat awal ketika komunitas ini sepakat untuk berkumpul kali pertama pada Mei 2008 dan menetapkan diri untuk tidak menjadi kumpulan pembaca an sich seperti halnya komunitas pembaca lain. Ketika itu gagasan mengenai menjadi komunitas pembaca yang aktif diliputi oleh keraguan yang amat besar: sanggupkah kita benar-benar mewujudkannya? Apakah Goodreads Indonesia dapat menjadi reference group yang berpengaruh? Saat itu semua serba meraba, bahkan kepada para penerbit, komunitas pembaca lain, penulis, perlu upaya ekstra untuk menjelaskan apa sejatinya Goodreads Indonesia itu agar mereka tidak bingung dan tidak menganggap kita hanya sekumpulan pemimpi. Namun perjalanan waktu menunjukkan misi Goodreads Indonesia menjadi komunitas pembaca aktif bukan slogan kosong! Bukan cuma lips service! Cuma ucapan manis di bibir!

Terbukti sudah pembaca yang berkumpul di Goodreads Indonesia tak cuma aktif membaca buku dan membicarakannya, tetapi lebih dahsyat daripada itu, kita telah benar-benar melakukan hal-hal berguna dengan buku di dalam masyarakat. Terbukti sudah (sebagian besar dari) kita adalah sekumpulan "A Doer"! Orang-orang yang berbuat! Bukan kalangan orang yang sibuk hanya mengkritik, berkomentar, membual, mengeluh, yang memuakkan dan melelahkan untuk dijadikan teman. Juga telah terbukti manfaat kegiatan yang kita lakukan tak cuma berarti bagi para anggota yang tergabung di dalamnya, tetapi lebih daripada itu, bermanfaat bagi orang banyak, lebih besar daripada komunitas itu sendiri. Sehingga tidak ada alasan untuk tidak merayakannya secara spesial dari tahun ke tahun.

Tahun ini saja, dari Januari sampai dengan April 2010, rentetan kegiatan yang Goodreads Indonesia lakukan sudah membuktikan itu:

Bulan Januari 2010

1. Klub Buku GRI #1: Negeri 5 Menara - 10 Januari 2009
Pertama kalinya Klub Buku GRI dilaksanakan secara nyata di TM Bookstore, Depok Town Square dengan menghadirkan Ahmad Fuadi, penulis novel Negeri 5 Menara.

2. Kumpul-Kumpul GRI Yogya (Kopdar Yogya) – 17 Januari 2010 adalah kali pertama para pembaca di Yogyakarta mulai berkumpul dan bergiat.

3. Citiwalk-Wiskul-Karaoke GRI #3 (GRI Bandung) - 30 Januari 2010

4. Bantuan tahap kedua “Bangun Kembali Padang dengan Buku” – 31 Januari 2010 Kali ini Goodreads Indonesia berhasil mengumpulkan dan mengirim 177 kg bantuan buku dan peralatan sekolah.

Bulan Februari 2010

5. Klub Buku GRI #2: "Sesi Berbagi: Menulis Review dari Curhat sampai Telaah Karya" -- 14 Februari 2010 bersama Bambang Budjono (eks-redaksi Tempo) dan Damhuri Muhammad (pengulas buku)

Bulan Maret 2010

6. Kampanye Bersama: Pameran dan Diskusi “Pelarangan Buku Menutup Jendela Dunia " -- 14 – 17 Maret 2010 bekerjasama dengan ELSAM – ISSI – Ruang Rupa – Grafisosial Indonesia – Dewan Kesenian Jakarta, Propagraphic Movement – Goodreads Indonesia – YLBHI – Forum Indonesia Membaca – Yayasan Jurnal Perempuan – Koas N Roll – Atap Alis – Bujangan Urban – Sakitkuning Collectivo – STENZILLA – Serum.

7. Klub Buku GRI # 3: "Fantasi Indonesia, mungkinkah memikat pembaca?"" -- 14 Maret 2010 bersama R.D. Villam (penulis), Tyas Palar (penulis), dan Poppy D. Chusfani (penulis/penerjemah)

8. Karaoke GRI #4 -- 20 Maret 2010

9. Garuda, Masihkah di Dadaku?: Pemutaran film dan Diskusi bersama Nanang R. Hidayat (Penulis) dan Dr. Asvi Warman Adam (Sejarawan) – 25 Maret 2010 bekerjasama dengan Sahabat Museum.

Bulan April 2010

10. Kopdar GRI Yogya #2 - 3 April 2010

11. Kopdar GRI Banjarmasin - 4 april

12. Jelajah Giganto #2: "Mencari Jejak Giganto" – 10 April 2010 bekerjasama dengan Borneo Orangutan Survival (BOS) dan didukung oleh Kurniaesa Script Agency & Author Management (KEA) dan Kebun Binatang Ragunan

13. Klub Buku GRI # 4: "Karena Setiap Perempuan adalah Perawan" -- 18 April 2010 bersama Sanie B. Kuncoro (penulis), Aquino Hayunta (Jurnal Perempuan), dan Layli Dayanti (psikolog).

14. World Book Day 2010: "Book Swap Akbar" dan amal buku untuk Sejuta Buku untuk Anak Indonesia (SeBUAI) dan Bai Tualeka

Dan daftar tadi belum menghitung kerjasama yang Goodreads Indonesia lakukan dengan:

a. Radio Republik Indonesia Pro 2 FM untuk menyiarkan serunya membaca di "On Air with GRI" di acara Pro Resensi.

b. Portal Seni dan Budaya Indonesia.seni untuk ikut mengelola bersama kolom Sastra dan Film dengan memasukkan resensi secara reguler.

Aku kira masih banyak energi yang akan kita keluarkan lagi, karena tampaknya anggota Goodreads Indonesia sungguh-sungguh (hiper)aktif.


2. Dimulainya strukturisasi penyelenggaraan Goodreads Indonesia merupakan pencapaian bahwa pembaca dapat berorganisasi dan mampu mengorganisasikan kebutuhannya sendiri.

"Banyak kepala, banyak keinginan." Begitu pula yang terjadi di komunitas pembaca Goodreads Indonesia selama 3 tahun ini. Sadar atau tidak sadar, semua kita mempunyai kebutuhan yang berupaya kita penuhi lewat bergabung dengan komunitas ini. Agar semua kebutuhan itu bisa dipenuhi perlu dikelola secara tepat.

Bagaimana cara mengelola lebih 3.500-an kebutuhan selama ini?

Kopdar/pertemuan adalah cara yang tepat untuk mengumpulkan kebutuhan-kebutuhan anggota komunitas, malah dapat dikatakan kopdar adalah saat dimana kebutuhan-kebutuhan anggota bertemu dan dirumuskan. Karena saat bertemu dengan pembaca lain biasanya tercetus kebutuhan bersama, baik dalam rumusan kegiatan yang mau diadakan, harapan, dan kritikan, yang bisa dijadikan pegangan untuk berkegiatan. Maka kota-kota yang sudah melakukan kopdar biasanya dapat merumuskan kebutuhan mereka sendiri dan bagaimana caranya memenuhi kebutuhan itu. Kota-kota yang dihuni anggota GRI seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Makasar, Banjar selama ini sudah melakukan kopdar dan geliat kegiatan GRI langsung tampak karena tepat sasaran.

Kopdar semacam ini harus didukung menjadi dinamika anggota-anggota pendukungnya, yang kita sepakati menjadi tanggungjawab para penghuni di masing-masing kota. Dulu, para pengkritik selalu menyorot bahwa kegiatan GRI terlalu Jakarta-sentris, namun kritikan itu tidak berdasar. Untuk bisa menggelar kegiatan kopdar haruslah datang pertama-tama dari para GRI yang menghuni kota tersebut. GRI Yogyakarta berhasil membuktikan bahwa tanpa intervensi mereka bisa menggelar kopdar, bahkan baru saja kopdar ke-2 dilakukan. GRI Makasar, GRI Banjarmasin telah lebih dulu membuktikan bahwa semua itu bisa dilakukan tanpa “rezim kontrol dari Jakarta”. Semua tuduhan dan kritikan itu tidak berdasar. Malah sebaliknya membuktikan para pengkritik tidak pernah sungguh-sungguh berupaya menggalang sesama anggota GRI di kotanya untuk berkumpul dan berbuat.

Siapa yang mau mengelola kebutuhan-kebutuhan ini?

Untuk menjadi perhatian bersama, tidak ada satu orangpun yang digaji oleh Goodreads Indonesia. Semua gratisan! Yang diterima hanya tepukan di bahu atau paling sekedar ucapan terima kasih semata, itupun kalau ingat. Semua yang selama ini mengelola adalah para sukaRELAwan, orang yang MAU meluangkan waktu di sela kepadatan jam-jam bekerja atau menuntut ilmu. Para sukarelawan ini benar-benar bekerja dilandaskan atas rasa suka pada buku dan kepercayaan pada misi yang diemban Goodreads Indonesia. Maka niscaya tidak ada (thx Panda atas koreksinya -AS) Goodreads Indonesia tanpa keberadaan mereka-mereka ini.

Termasuk di dalam para sukarelawan adalah para moderator. Kalau belakangan ini secara sembunyi-sembunyi ada pembicaraan sejumlah teman di Goodreads yang mempersoalkan moderator, ijinkan aku menjelaskan agar tidak terbit pandangan bahwa moderator adalah SEGALANYA yang hinggap secara picik di kepala sejumlah teman.

Dalam sejarahnya, grup ini diawali oleh pendiri sekaligus moderator Femmy Syahrani, hingga orang-orang mulai bergabung. Femmy menghimpun semua pembaca yang ada di Goodreads dengan tujuan mengumpulkan buku-buku berbahasa Indonesia dan mengunggahnya. Baru kemudian, setelah pelaksanaan Kopdar I Goodreads Indonesia, moderator bertambah 1 orang, yakni aku. Selama 1,5 tahun sendirian sebagai moderator, aktivitas GRI mulai digiatkan tak hanya di online, tetapi juga mulai banyak kegiatan nyata yang langsung bersinggungan dengan masyarakat. Setelah kewalahan, akhirnya aku memilih 7 orang pembantu moderator (co-moderator) yang dapat meringankan tugas-tugas moderator yang mulai bertumpuk. Kemudian, barulah di usia ke-2, Goodreads Indonesia mempunyai 8 moderator terpilih dari hasil Musyawarah Akhir Tahun Goodreads Indonesia (MATA GRI) 2009.

Sebetulnya moderator itu apa dan bagaimana bekerjanya?

Dari pengalaman selama hampir 3 tahun, aku memahami sesungguhnya moderator adalah seseorang yang mengelola kebutuhan komunitas. Orang ini harus memikirkan bagaimana komunitas bisa mendapatkan kebutuhan-kebutuhan agar komunitas itu semakin maju dan berupaya untuk menjadikan harapan-harapan para anggotanya menjadi nyata. Bila kebutuhan selama ini sudah dirumuskan lewat kopdar, maka tugas moderator yang utama adalah menjadikan kebutuhan-kebutuhan yang telah dirumuskan di kopdar terjadi dalam waktu penugasannya. Tugas lain adalah memoderasi kegiatan online dan nyata, menjaga suasana tetap sehat dan bermartabat, dan melakukan kerjasama-kerjasama dengan pihak luar agar komunitas semakin besar dan kuat.

Dalam menjalankan tugasnya, tidaklah mudah mengelola kebutuhan komunitas. Yang pasti, tidak semudah kedengarannya. Ada banyak kepentingan, jujur juga banyak tekanan yang terjadi, maka moderator bekerja dengan cara memilih mana yang bisa memenuhi kebutuhan lebih banyak orang daripada kepentingan orang per orang. Pilihan moderator tentu tidak bisa membuat semua orang bahagia. Kadang-kadang harus ada yang dikorbankan! Dalam kejadian terhadap diriku sendiri, yang aku korbankan selama ini adalah hidup, karir, dan keluargaku sendiri. Moderator/co-moderator lain punya daftar apa yang mereka korbankan: bisa jadi uang, bisa jadi pertemanan, bisa jadi waktu. Tetapi pembenaran untuk semua itu adalah KERELAAN untuk menjadikan komunitas Goodreads Indonesia ini besar dan kuat seperti sekarang ini. Siapa yang MAU mengemban hal-hal di atas dan di dalam prosesnya mendapat dukungan kepercayaan dari teman-teman, silakan mengajukan diri menjadi moderator!

Bagaimana proses pemilihan moderator?

Lewat mekanisme yang ada sekarang berarti moderator dipilh pada Musyawarah Akhir Tahun Goodreads Indonesia (MATA GRI) setiap akhir tahun. Peserta musyarawah adalah para anggota yang aktif di berbagai daerah yang diundang oleh moderator untuk bersama-sama mengevaluasi kerja Goodreads Indonesia selama setahun terakhir, mengaudit keuangan, menyusun agenda setahun mendatang, dan memilih moderator yang baru.

Mengapa dengan undangan? Karena harus dipastikan orang yang diundang MAU dan BERKEMAMPUAN untuk terlibat dalam seluruh proses musyawarah hingga selesai. Faktor lain adalah mengenai tempat penyelenggaraan dan pembiayaan.

Pada saat penyelenggaraan MATA GRI, moderator yang selama ini bertugas langsung demisioner dan memiliki derajat yang sama dengan peserta musyawarah lainnya. Peserta MATA GRI mengajukan kandidat nama-nama moderator yang dinilai mampu. Idealnya, karena peserta beragam dari berbagai daerah, nama-nama itu mewakili aspirasi banyak anggota. Baru kemudian dilakukan mekanisme voting (1 orang memiliki 2 suara) untuk memilih siapa yang akan menjadi moderator Goodreads Indonesia.

Apakah moderator yang sekarang sudah ideal? Sudah mewakili 'Indonesia'?

Saat undangan MATA GRI 2009 diedarkan, dari kota selain Jakarta, hanya ada Rhe dari GRI Yogya. Sangat disayangkan nama-nama seperti Abdyka Wirmon dan Mel Chandra (GRI Bandung) tidak datang. Begitu pula nama-nama seperti Irfin (GRI Makasar), Iyut (GRI Yogya), Suryati Zamzam (GRI Cirebon), dan lain-lain juga tidak bisa datang yang tentu saja karena jarak yang jauh dan berat di ongkos. Sehingga secara jujur harus dikatakan kondisi yang mewakili 'Indonesia' tidak tercapai.

Namun kita harus berangkat dari kondisi material yang ada, bukan ideal. Kondisi yang ada adalah para peserta MATA GRI 2009 mampu mengajukan nama-nama orang yang dinilai memiliki kemampuan untuk menjadi moderator Goodreads Indonesia, sehingga agenda pemilihan moderator terus dilaksanakan. Lewat mekanisme voting, terpilih 8 moderator. Sejumlah nama seperti dari Nanto Sriyanto, Vera Damiri, Ronny Agustinus menolak untuk dicalonkan.

UNTUK mengatasi tidak terwakili 'Indonesia', diputuskan lewat MATA GRI 2009 untuk memilih Koordinator-Koordinator Kota. Inilah nama teman-teman yang menyatakan bersedia menjadi Koordinator Kota GRI dan diakui resmi lewat pemberian surat tugas oleh moderator Goodreads Indonesia:

1. Abdyka Wirmon - Koordinator Kota Bandung dan sekitarnya.
2. Mia Ayustina (drama queen)- Koordinator Kota Denpasar Bali dan sekitarnya.
3. Fanina - Koordinator Kota Padang Sumatera Barat dan sekitarnya.
4. Yudhistya Sudibya (Iyut) - Koordinator Kota Yogyakarta dan sekitarnya.
5. Ika Agustina (Buzenk) - Koordinator Kota Bogor dan sekitarnya.
6. Irfin - Koordinator Kota Makasar dan sekitarnya.
7. Yohanes Agung (Gonk) - Koordinator Kota Surabaya dan sekitarnya.
dan sejumlah nama lain yang masih menunggu konfirmasi.

Selain itu, untuk mengelola kebutuhan-kebutuhan spesifik, dipilih sejumlah Koordinator Khusus yang telah bersedia dan diakui resmi lewat pemberian surat tugas oleh moderator Goodreads Indonesia sebagai berikut:

1. Truly Rudiono - Koordinator Khusus Kerjasama Penerbit dan Toko Buku
2. Palupi Saesti (Palsay) - Koordinator Khusus Merchandising Goodreads Indonesia
3. Dahlia Syamsulyana - Koordinator Khusus Keuangan Goodreads Indonesia
4. Jimmy Simanungkalit - Koordinator Khusus Program Siaran Goodreads Indonesia (ditambahkan karena lupa mencantumkan sebelumnya. Maaf ya Jim! - AS)

Dengan demikian, diharapkan SEGALA BENTUK KEBINGUNGAN, KERAGUAN, PERTANYAAN seputar moderator menjadi terang-benderang jelasnya dan menunjukkan tidak ada yang disembunyikan bagi semua kita.

Bila masih tidak setuju atau berkeberatan, aku persilakan untuk menunggu pelaksanaan MATA GRI 2010 untuk memilih moderator atau sistem yang baru. Untuk sementara kita hormati yang ada sekarang ini daripada menggerogoti komunitas ini dari dalam dengan pikiran negatif yang membuang-buang energi.

Satu hal yang pasti dan tidak akan berubah, aku tidak ingin dipilih kembali sebagai moderator di periode yang akan datang. Maka terbuka satu peluang bagi teman-teman yang selama ini mengkritik, mengembosi dari dalam, untuk menjadi moderator bila mau. Tahun 2011, aku ingin kembali menjadi penyampah.

3. Regenerasi adalah transfer gagasan dan keteladanan.

Regenerasi adalah isu yang penting dan telah jauh-jauh hari dipikirkan solusinya. Goodreads Indonesia mempunyai cara regenerasi yang pantas diacungi jempol. Regenerasi di Goodreads Indonesia bukanlah soal memberikan estafet kepada yang muda, tetapi yang paling penting adalah upaya mentransfer gagasan dan keteladanan.

Gagasan menjadi komunitas pembaca yang aktif sampai hari ini terus menjadi misi yang diestafetkan ke semua anggota Goodreads Indonesia. Ketika tongkat estafet diberikan, tentu saja ada yang diam tak bereaksi, tapi cukup banyak juga yang "berlari". Dari sekian yang berlari itulah Goodreads Indonesia mendapatkan generasi baru pembaca aktif.

Keteladanan selama ini dimaknai dengan melibatkan sebanyak mungkin anggota dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan Goodreads. Kita memberi teladan bahwa kegiatan baca adalah kegiatan seru dan banyak hal positif yang muncul dari kegiatan baca. Lewat kerja-kerja organisasi, keteladanan menjadi praksis yang dialogis, bukan dogmatis.

Dimana tempat atau situasi yang tepat untuk melakukannya? Menurutku, kopdar adalah sarana, tempat, dan situasi yang tepat untuk melakukan transfer gagasan dan keteladanan ini. Apalagi karena nantinya akan dilakukan secara serentak, maka dapat dihitung generasi baru pembaca aktif yang dilahirkan pasca-kopdar nanti.

Teman-teman yang baru akan melihat apa sesungguhnya yang membuat Goodreads Indonesia menjadi rumah yang menyenangkan bagi para pembaca dan mengapa komunitas ini besar dan kuat. Sebabnya cuma satu: karena kita saling percaya bahwa membangun komunitas pembaca yang aktif itu perlu dan saatnya pembaca mempunyai posisi yang lebih baik dalam dunia perbukuan di negeri ini.


Inilah tiga (3) hal yang jauh lebih penting untuk dilihat pada penyelenggaraan milad Goodreads Indonesia setiap tanggal 7 Juni. Kepada moderator, koordinator-koordinator kota, dan pembaca aktif di Goodreads Indonesia, selamat mempersiapkan milad GRI.

Ingatlah untuk jadi pembaca aktif, karena baca itu seru.

Amang Suramang
email: amang1984@gmail.com

01/02/10

Tahap II: 177 Kg Bantuan Buku dan Peralatan Sekolah Terkirim ke Padang!

Setelah November 2009 kemarin kita sukses mengirimkan 230 Kg bantuan buku lewat kegiatan 'Bangun Kembali dengan Buku', Goodreads Indonesia kembali mengirimkan bantuan tahap kedua.

Terima kasih banyak buat semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu-satu, yang telah mengirimkan donasi hingga terkumpul sejumlah Rp 5.100.000,- dan Sabtu, 30 Januari 2010, Roos, Miaaa dan Echa dengan semangat 45 di bawah panas terik matahari belanja ke Pasar Asemka yang lokasinya berada di belakang Museum Mandiri Kota Tua.

Mungkin karena begitu semangatnya, kita tidak menunggu yang punya grosir untuk mengambilkan barang. Daftar belanja peralatan sekolah pun dibuka. Lewat pertimbangan harga, ketebalan, panjang, kualitas dll maka diputuskan untuk membeli:
- 10 pak buku tulis 56 hal
- 10 pak buku gambar
- 100 buah kotak pensil berwarna cerah khas anak-anak
- 100 buah penggaris 20cm (nanggung kan kalau 10cm hehe)
- 100 set pensil warna
- 1 gross pensil
- 1 gross bolpoint
- 3 pak penghapus
- 100 buah rautan pensil

Sungguh kebetulan, pemilik dan pegawai grosir tersebut juga orang Padang dan setelah tahu peralatan sekolah itu mau dikirim sebagai bantuan ke Padang ada beberapa item yang tidak dihitung dan dianggap bonus. Makasih uda!!

Proses belanja ini tidak berlangsung lama, kurang dari satu jam! Namun ternyata karena akhir pekan jatuh tepat di akhir bulan jalan-jalan di Kota Tua Jakarta sungguh luar biasa macet. Dengan susah payah Roos mendapatkan taksi, namun sepertinya si supir taksi kita ini tidak akan bisa memenangkan penghargaan supir taksi of the year menilik dari tingkat kecerewetan dan ketidak-taktis-an mencari jalur alternatif.

Bisa dibayangkan kami berempat, ada bu Wati teman kerja Roos yang ikut nemenin belanja, terjebak selama 3,5 jam di dalam taksi hanya di wilayah Kota Tua saja. Daripada marah-marah gak jelas, maka kita pun mengobrol seru sambil makan kacang rebus.

Kekhawatiran pun muncul karena mba Sanie B. Kuncoro, tamu di acara ngedimsum dan temu penulis di Dim Sum Festival Radio Dalam, datang tepat waktu pukul 18.00 di lokasi acara sementara para host acara masih terjebak di Kota Tua! Untungnya setelah memasuki wilayah Grogol, jalanan sangat lancar dan hanya membutuhkan waktu 45 menit untuk sampai di Radio Dalam.

***

Lalu di hari Minggu, 31 Januari 2010, sekitar pukul 10 pagi temen-temen yang ikut acara di Bandung -Mute, Ayu, Buzenk- sampai. Mereka bertiga ini keren banget, setelah non-stop ngikutin acara di Bandung dari pagi, nonton midnite (ditemani empat pendekar Erie Afrit, Nenangs Patrick, Imam the Sunan, dan Luqman Matahati) tanpa tidur dilanjut pukul 06.30 pagi berangkat naik bus balik ke Jakarta dan langsung ke Radio Dalam! KEREN!!

Setelah sarapan pukul 11.00 pagi, Roos dan Miaaa harus kembali belanja buku -kali ini buku pelajaran sekolah- dan dilanjut ke pool Cipaganti di D'Brasco menjemput Lita yang membawa buku-buku sumbangan dari Bandung.

Lantas acara menyortir buku pun dimulai, langsung deh otomatis memilah-milah buku-buku sesuai kategori dan memasukkan ke kardus yang telah disiapkan untuk paket-paket ini. Peralatan sekolah juga disusun ulang ke kardus. Hasilnya enam (6) kardus pun siap untuk dikirim ke Padang.

Sekitar pukul 16.00 sore, Ari sang srikandi Goodreads Indonesia pun datang. Kenapa kedatangan Ari dielu-elukan? Karena tugas berikutnya sangat berat, membawa buku-buku ini ke jasa pengiriman paket di Tanah Abang. Setelah keenam kardus tersusun rapi di dalam mobil, Ari dan Miaaa berangkat ke Tanah Abang dan horeee sekitar pukul 17.30 sore paket bantuan buku dan peralatan sekolah dari Goodreads Indonesia terkirim ke Padang.

Terima kasih untuk teman-teman di Bandung (Felicia, Potluck, dll), Tiwik, MP Book Point, Windy Ariestanty dan Gita dari Gagas Media dan Bukune yang menyumbangkan dua kardus buku walau lewat pemberitahuan yang sangat mendadak (aku lupaaaa maaaf), terima kasih buat Anna yang membawakan kardus buku dari Bukune ke Radio Dalam. Thanks buat temen-temen Mute yang udah nyumbangin tas. Buat Mel dan Immi yang membantu Lita mengumpulkan buku-buku dari Potluck dan mengantar ke pool Cipaganti.

Terima kasih untuk para donatur yang telah mengirimkan donasi dan telah digunakan untuk membeli peralatan dan buku sekolah.

Makasih mba Nur yang mengambil foto kita rame-rame dan menolerir keributan yang kita sebabkan, juga untuk Palsay yang kehadirannya diwakili dua kotak JCo.

Untuk tim packing: Roos, Lita, Echa, Buzenk, Mute, Rhe, Ariyati, Ayu (yang bangun tidur pas kita selesai packing hahaha), dan Harun sang pangeran, terima kasih banyak untuk semangat kalian walau belum pada makan siang hehe Goodreads Indonesia memang keren!

Jakarta, 31 Januari 2010
22.15; Utan Kayu

Update Laporan Donasi Dompet Pembaca Peduli

Laporan Donasi Dompet Pembaca Peduli untuk kegiatan Bangun Kembali Dengan Buku


Donasi:
1. YA - BCA - RP 100.000,-
2. FE - BCA - RP 100.000,-
3. MN - BCA - Rp 50.000,-
4. NW - BCA - Rp 150.000,-
5. KP - BCA - Rp 200.000,-
6. ES - BCA - Rp 150.000,-
7. PM - BCA - Rp 200.000,-
8. PT - MAN - Rp 500.000,-
9. WN - MAN - Rp 500.000,-
10. HY - MAN - Rp 200.000,-
11. RE - MAN - Rp 200.000,-
12. KB - BCA - Rp 500.000,-
13. BD - BCA - Rp 1.616.000,-
14. LS - BCA - Rp 200.000,-
15. PC - BCA - Rp 500.000,-

Total donasi: Rp 5.166.000,-

Biaya-biaya:

November 2009
Kardus untuk packing - Rp 100.000,-
Packing dari Bandung - Rp 75.000,-
Pengiriman ke Padang - Rp 230.000,-

Januari 2010
Ongkos taksi, bensin, dll - Rp 225.000,-
Peralatan sekolah - Rp 1.900.000,-
Buku sekolah - Rp 2.000.000,-
Pengiriman ke Padang - Rp 177.000,-

Total pengeluaran : Rp 4.707.000,-

Saldo kas Dompet Pembaca Peduli Rp 459.000,-

31/12/09

Catatan Akhir Tahun Goodreads Indonesia 2009

Catatan Akhir Tahun Goodreads Indonesia 2009:
Disatukan Oleh Buku, Bersama-sama Berbuat Untuk Buku
oleh Amang Suramang


TAHUN 2009 merupakan tahun kedua kiprah Goodreads Indonesia di dunia perbukuan. Kita telah melampaui target mencapai 1% atau sekitar 2.500 anggota dari total masyarakat Indonesia. Tepatnya per Desember 2009 ini jumlah anggota Goodreads Indonesia telah mencapai lebih dari 3.000 anggota. Para anggota ini terdiri dari pembaca, penulis, dan penerbit. Suatu hal yang patut dicatat juga bahwa di tahun 2009 ini, hubungan antara pembaca, penerbit, penulis menjadi lebih baik. Cirinya dapat ditemui dengan mudah: penulis bisa lebih mudah bertemu pembacanya (dan sebaliknya) dan para penerbit bisa berdialog langsung dengan para pembaca, entah untuk memperkenalkan suatu buku atau hanya sekedar mengobrol seputar dunia perbukuan.

Secara kronologis, dapat dibeberkan kepada kita semua, hal-hal apa saja yang sudah dilakukan Goodreads Indonesia selama tahun 2009 ini. Seluruh kegiatan ini mulanya diawali oleh karena kesukaan yang sama atas membaca buku dan mendorong tindakan kolektif untuk mewujudkan rasa suka itu.

1. Jelajah Rahasia Meede 2 - 25 Januari 2009
Sukses pelaksanaan di tahun 2008, membuat kegiatan ini diadopsi oleh penerbit Hikmah untuk diteruskan menjadi bagian dari kegiatan sosial mereka. Kali ini diikuti oleh 150 peserta.

2. Goodreads Indonesia Makassar (Kopdar 3) - 15 Februari 2009
Para pembaca di Makassar mulai berkumpul dan bergiat.

3. Tribut untuk Legenda yang Terlupakan - 25 Februari 2009
Apresiasi atas kerja keras para penulis senior Nh. Dini dan R.A. Kosasih. Acara ini sukses berkat bekerjasama dengan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Komik Indonesia, Gagas Media.

4. Goodreads Indonesia @ World Book Day 2009 – 23 April s/d 17 Mei 2009
Goodreads Indonesia terlibat dalam kegiatan book on the street hingga pameran komunitas dan mendapat sorotan khusus dari media atas kegiatan book swap-nya.

5. Peluncuran buku "Para Penggila Buku: 100 Catatan di Balik Buku" - 20 Mei 2009
Bekerjasama dengan iboekoe dan Kubugil, Goodreads Indonesia ikut merancang dan menyemarakkan acara ini dengan diskusi/bedah buku.

6. HUT 2 Tahun Goodreads Indonesia – Juli s/d September 2009
Masing-masing anggota GRI di di Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Cirebon mulai saling berkenalan dan merumuskan kebutuhan setiap kota.

7. Peluncuran buku "Live Through This” – 8 Agustus 2009
Bekerjasama dengan Redline Publishing menyusun acara dengan diskusi/bedah buku.

8. Mencari Bintangmu di Langit – 30 Agustus 2009
Bekerjasama dengan LAPAN dan penerbit Kanisius menggelar pemutaran film dan perbincangan buku "Menjelajah Tata Surya" karya Gunawan Admiranto. Dihadiri oleh 200 siswa Sekolah Menengah.

9. Karaoke Bareng 1 & 2 - 2009
Atas inisiatif Silvana, terbukti para pembaca bukan hanya aktif baca, tapi juga aktif bernyanyi.

10. Jelajah Giganto - 14 November 2009
Bekerjasama dengan BOS dan KEA/Penerbit Edelweis menjelajahi Pusat Primata Schmutzer Ragunan bersama penulis "Giganto" Koen Setyawan. Diikuti oleh 30 peserta.

11. Kampanye "Bangun Kembali dengan Buku" – Oktober-Desember 2009
Kegiatan amal untuk membantu para korban gempa di Sumatera dengan cara mengumpulkan buku, dana, dan peralatan sekolah dan dikirimkan untuk membantu Perpustakaan Daerah Padang dan SDN 18 Bungkus, Padang. Disokong oleh bantuan banyak pihak seperti Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, toko buku MP Bookpoint, Seven Heaven, Potluck, komunitas penulis Perkosakata, FixiMix, dan lain-lain.

12. Temu Akhir Tahun GRI Bandung - 26 Desember 2009
Para pembaca di Bandung berkumpul lagi dan melahirkan sejumlah usulan kegiatan selanjutnya.

Selain itu pada tahun 2009 ini, Goodreads Indonesia sudah berhasil merumuskan kebutuhan anggota, sehingga bisa menentukan secara bersama-sama mana kegiatan yang disepakati untuk dilanjutkan dan mana yang tidak lewat Survei Online Goodreads Indonesia dan pelaksanaan Musyawarah Akhir Tahun Goodreads Indonesia (MATA GRI) yang berhasil melakukan evaluasi, penetapan kegiatan di tahun 2010, hingga pemilihan moderator baru untuk tahun kerja 2010.

Dinamika di dalam Goodreads Indonesia sendiri naik dan turun selama tahun 2009 ini. Selain yang manis-manis, kita juga merasakan bahwa kualitas diskusi menurun meski banyak topik baru bermunculan namun umumnya topik-topik itu hanya bertahan sebentar, sebelum akhirnya berlanjut tidak serius. Pergesekan hubungan yang mengarah ke perseteruan, meski tidak terlihat sejelas tahun 2008 juga terjadi dengan menyisakan penyesalan yang mungkin sudah terlambat. Namun secara pasti, semua kejadian manis dan pahit ini akan memperkaya komunitas ini menjadi komunitas yang dewasa, selain sehat dan bermartabat.

Seiring banyaknya kegiatan yang dilakukan Goodreads Indonesia, masyarakat menjadi lebih apresiatif atas apa yang sudah dilakukan Goodreads Indonesia, yang memberi sinyalemen bahwa kegiatan Goodreads Indonesia tidak melulu eksklusif hanya bagi anggotanya, tetapi juga melebur dan bermakna bagi kehidupan masyarakat. Apresiasi masyarakat tampak pada pelbagai liputan Goodreads Indonesia yang muncul di berbagai media, mulai cetak, televisi, hingga online.

1. TVOne, 5 Januari 2009, program Halo Indonesia, berbicara tentang trend buku 2009

2. RRI Pro2 FM, Pro Resensi, 15 Februari 2009, wawancara langsung tentang Goodreads Indonesia dan minat baca di Indonesia

3. The Jakarta Post, 17 Mei 2009, mengulas tentang bookswap dan keterlibatan GRI di World Book Day 2009

4. Majalah Fit, Mei 2009

5. TVOne, Apakabar Indonesia, September 2009

6. RPKFM, Program You and The City, 31 Oktober 2009, wawancara tentang Goodreads Indonesia dan kampanye "Bangun Kembali dengan Buku"

7. RPKFM, Feature, 19 November 2009, wawancara tentang relawan buku.

8. Rakyat Merdeka Online, News, 28 Desember 2009, wawancara tentang pelarangan buku.


TANTANGAN MASA DEPAN

Tahapan konsolidasi Goodreads Indonesia sudah berjalan, Goodreads Indonesia akan melangkah ke tahapan selanjutnya yakni tahap sosialisasi. Di tahapan sosialisasi, diharapkan Goodreads Indonesia bisa lebih menyebarkan keaktifan membaca, keaktifan berbuat bersama-sama untuk buku, keaktifan berbuat amal yang sejalan dengan visi dan misi Goodreads Indonesia menjadi pembaca aktif dalam dunia perbukuan di Indonesia.

Menjaga Goodreads Indonesia menjadi komunitas yang sehat, bermartabat dan dewasa adalah tantangan yang harus dijawab di masa depan, bukan saja oleh jajaran Moderator 2010 tetapi juga oleh seluruh anggota komunitas ini.

Atas nama moderator dan co-moderator 2009, serta mewakili jajaran moderator 2010, saya ucapkan "Selamat tahun baru 2010! Selamat membaca, selamat menjadi bagian dari para pembaca aktif yang akan mengubah wajah perbukuan di Indonesia."


Semarang-Jakarta, 27-31 Desember 2009