Tampilkan postingan dengan label press release. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label press release. Tampilkan semua postingan

11/01/11

Catatan Akhir Tahun 2010 Goodreads Indonesia: Menyambut Gerakan Masyarakat Pembaca Aktif

CATATAN AKHIR TAHUN 2010 GOODREADS INDONESIA
Menyambut Gerakan Masyarakat Pembaca Aktif


Dalam rangka merangkum kiprah tahun ketiga keberadaan Goodreads Indonesia (GRI), izinkan saya menguraikan catatan yang saya simak dari pelbagai kegiatan yang telah dilakukan komunitas pembaca aktif GRI ini selama tahun 2010. Catatan ini saya upayakan bisa berlaku secara umum meskipun sulit untuk dikatakan tidak ada aspek personal yang terlibat di dalamnya, karena bagaimanapun subyektivitas saya sebagai pencatat sekaligus pelaku bisa sangat bias dalam melaporkannya.

Lewat Musyawarah Akhir Tahun Goodreads Indonesia (MATA GRI) tahun 2009, dirumuskan berbagai hal, termasuk di dalamnya merumuskan kegiatan-kegiatan komunitas ini selama setahun berikutnya mulai dari bulan Januari sampai dengan Desember 2010. Hal ini selaras dengan permintaan yang disampaikan anggota lewat survei internal pada bulan Juni 2009 yang mengharapkan kegiatan-kegiatan GRI bila memungkinkan diagendakan jauh-jauh hari bukan lagi kegiatan yang sifatnya dadakan dan tanpa perencanaan.

Berikut adalah daftar kegiatan yang dilakukan oleh GRI dan catatan dari masing-masing kegiatan tersebut.

1. Klub Buku GRI #1: “Baca itu seru!” - 10 Januari 2010
Pertama kalinya Klub Buku GRI dilaksanakan secara nyata di TM Bookstore, Depok Town Square dengan menghadirkan Ahmad Fuadi, penulis novel Negeri 5 Menara.

2. Kumpul-Kumpul GRI Yogya (Kopdar GRI Yogya #1) – 17 Januari 2010
Para pembaca di Yogyakarta mulai berkumpul dan bergiat.

3. Klub Buku GRI #2: "Sesi Berbagi Menulis Review dari Curhat sampai Telaah Karya" – 14 Februari 2010.
Mengupas teknik dan seni menulis timbangan buku bersama Bambang Budjono (eks-redaksi Tempo) dan Damhuri Muhammad (pengulas buku). Dimeriahkan peluncuran Buku "The Death to Come (The Search for Merlin, #1) karya Tyas Palar.

4. Citywalk-Kuliner-Karaoke GRI Bandung (Kopdar GRI Bandung)

5. Kampanye Bersama Pelarangan Buku dari Jaman ke Jaman - 14 Maret 2010
Diisi dengan kegiatan pameran bersama dan diskusi “Menolak Pelarangan Buku" bekerjasama dengan Elsam dan sejumlah elemen masyarakat di Taman Ismail Marzuki

6. Klub Buku GRI #3: "Fantasi Indonesia: mampukah memikat pembaca?" – 14 Maret 2010
Menghadirkan R.D. Villam (penulis), Tyas Palar (penulis), dan Poppy D. Chusfani (penulis/penerjemah)

7. Pemutaran film dan Diskusi "Garuda, Masihkah di Dadaku?" – 21 Maret 2010
Menghadirkan Nanang R. Hidayat (Penulis) dan Dr. Asvi Warman Adam (Sejarawan) bekerjasama dengan Sahabat Museum di Museum Bank Mandiri

8. Kopdar GRI Yogyakarta #2 – 28 Maret 2010

9. Jelajah Giganto #2: "Mencari Jejak Giganto" – 10 April 2010
Bekerjasama dengan BOS dan KEA/Penerbit Edelweis menjelajahi Pusat Primata Schmutzer Ragunan bersama penulis "Giganto" Koen Setyawan. Diikuti oleh 100 siswa menengah.

10. Klub Buku GRI #4: "Karena setiap perempuan adalah perawan" – 18 April 2010
Menghadirkan Sanie B. Kuncoro (penulis), Aquino (Jurnal Perempuan), dan Layli Dayanti (psikolog).

11. Book Swap Akbar dan Amal Buku – 14 Mei 2010
Dalam rangka World Book Day 2010 di Pasfes. Terkumpul lebih dari 300 buku untuk Sejuta Buku untuk Anak Indonesia (SeBUAI) dan komunitas baca Bai Tualeka, Ambon.

12. Pemutaran dan diskusi "Oeroeg: Krisis Identitas Sebuah Bangsa" – 15 Mei 2010
Dalam rangka World Book Day 2010 di Museum Bank Mandiri

13. Plesiran Ngisor Ringin (Kopdar GRI Yogyakarta #3) – 15 Mei 2010
Pembaca di Yogyakarta berkumpul kembali, diisi dengan kegiatan book swap

14. Klub Buku GRI #5: “Komik Indonesia dari masa ke masa” – 23 Mei 2010
Menghadirkan Wahyu Sugianto (Masyarakat Komik Indonesia), Gerdi Wiratakusuma (komikus senior) dan Gupta Mahendra (Penerbit Koloni/M&C)

15. Reriungan Bogor (Kopdar GRI Bogor #2) - 28 Mei 2010
Acara diawali dengan mengunjungi perpustakaan dan rumah sastrawan Pramoedya Ananta Toer, kunjungan ke Taman Baca Barudak, dan wisata buku di Bogor.

16. Tepang Sono Goodreaders Bandung-Kopdar - 12 Juni 2010
Acara dimulai dengan main futsal, lalu kumpul untuk acara kopdar memperingati 3 tahun Goodreads Indonesia.

17. Kopdar 3 Tahun GRI - 13 Juni 2010
Acara tahunan dalam rangka memperingati milad ke-3 GRI dimeriahkan dengan peluncuran kartu anggota dan peresmian Rumah Goodreads Indonesia


18. Klub Buku GRI #6: Jakarta Doeloe dan Kini - 20 Juni 2010
Mengupas persoalan jalanan, ruang terbuka, dan tata kota Jakarta dengan narasumber: Prof dr Firman Lubis (Penulis seri Jakarta), Nirmono Yoga (arsitek), dan Fadly Kurniawan (Editor Komunitas Bambu).

19. Workshop Manajemen Perpustakaan dengan Library of Senayan - 17 Juli 2010
Workshop singkat dengan mentor Hendro, pegiat perpustakaan dan trainer software Senayan. Diikuti oleh 20 anggota secara gratis.

20. Klub Buku GRI #7: Dongeng Klasik Sepanjang Masa - 18 Juli 2010
Membicarakan seputar dongeng-dongeng klasik dari mancanegara sampai negeri sendiri dengan narasumber: Ariyo Zidni (Komunitas Belalang Kupu-Kupu), Jia Effendi (editor Penerbit Atria), dan Khairi Rumantati (penulis dongeng anak).

21. Klub Buku GRI #8: Dilarang Gondrong: Sebuah Peristiwa – 14 Agustus 2010
Mengupas buku dan membincangkannya bersama Aria Wiratma Yudhistira dan Aristides Katoppo

22. Buka Puasa Bersama – 22 Agustus 2010
Dimeriahkan dengan nonton bareng “The House of The Spirits”

23. Reinventing Indonesia – 28 Agustus 2010
Berpartisipasi dalam pertemuan antar komunitas pembaca buku, atas undangan OTB Circle.

24. GRI Berbagi Cahaya Kasih – 28 Agustus 2010
Kegiatan amal kasih pembaca dengan berkunjung ke panti anak yatim dan berbagi kebahagiaan.

25. Klub Buku GRI #9: Romansa Kaum Urban – 26 September 2010
Keberadaan roman-roman yang dikenal dengan metropop dan mengupasnya bersama Syahmedi Dean (penulis), Christian Simamora (penulis/editor Gagas) dan Clio Freya (penulis).

26. Kopdar GRI Malang #1 – Oktober 2010
Para pembaca di Malang mulai berkumpul dan bergiat.

27. Klub Buku GRI #10: Kumcer vs Novel – 17 Oktober 2010
Serunya mengetahui seluk beluk penulisan kumcer dan novel bersama Bamby Cahyadi , Kurnia Effendi dan Wa Ode Wulan Ratna

28. Klub Buku GRI #11: Mencicip Kesenangan Lewat Kuliner dan Travelling – 14 November 2010
Mengupas seni traveling sambil omong-omong makanan enak bersama Rini Raharjanti , Matatita dan Dewi Fita

29. Nobar “The House of The Spirit” – 26 November 2010
Pemutaran film sekaligus menghadirkan penerjemah buku ini Ronny Agustinus di ajang FPPK/Create Festival.

30. Temu Penulis dan sharing session bertema “From good readers to good writers” – 27 November 2010
Menghadirkan Thia (penulis anak) dan Fita (penulis/kontributor) dalam ajang FPPK/Create Festival.

31. GRI Peduli Merapi – 31 November 2010
Aksi donasi dan menjadi relawan dalam sehari untuk para korban letusan Merapi oleh GRI Yogya.

32. Festival Pembaca Indonesia – 5 Desember 2010
Perhelatan akbar para pembaca yang digelar untuk kali pertama dan penyelenggaraan Anugerah Pembaca Indonesia 2010 untuk ajang apresiasi kepada insan perbukuan di Indonesia. Dimeriahkan oleh lebih dari 30-an stand berisi koleksi buku yang unik dan tematik. Dihadiri oleh 700 pengunjung dan 12.000 visitors di blog.

33. Klub Buku GRI #12: Review dan Preview
Evaluasi Klub Buku GRI bersama

Sebagai catatan, maka yang menjadi perhatian pertama saya adalah kegiatan apresiasi lewat Klub Buku GRI. Seperti yang kita tahu, pada tahun 2010 untuk kali pertama diadakan kegiatan tatap muka secara rutin Klub Buku GRI dengan mengandeng kerjasama dengan pihak kedua, dalam hal ini toko buku TM Bookstore yang berada di Depok Town Square, Depok dan Poins Square, Lebak Bulus. Kegiatan ini diadakan 12 kali dan berjalan baik serta banyak anggota GRI yang bersedia menjadi mendukung kegiatan tersebut dengan menjadi moderator dan penulis Laporan Pandangan Mata (LPM).

Keuntungan yang paling terasa: 1) pertemuan rutin ini bisa dijadikan tempat untuk para pembaca bertemu dan bersepakat. 2) Penulis dan pekerja di penerbitan mulai banyak mengenal GRI. 3) Acara ini mengenalkan komunitas dan lembaga lain ke GRI.

Adapun kekurangannya adalah: 1) Bila narasumber mendadak tidak bisa, acara yang sudah dipersiapkan jadi sedikit terganggu. 2) Adanya konflik internal toko buku dengan suatu penerbit yang terkadang mengganggu proses klub buku. 3) Keberadaan lokasi acara, yang di satu pihak lokasi TMBookstore Poins Square LB Bulus strategis tetapi kendalanya sepi, sementara di lain pihak TMBookstore Depok jauh namun justru anggota GRI banyak yang memilih datang.

Kegiatan apresiasi lain yang perlu mendapat catatan adalah Nonton Bareng. Selain kegiatan nonton bareng yang digelar dengan pertolongan dari sejumlah penerbit, GRI juga mengadakan kegiatan Nobar Garuda, Oeroeg, The House of The Spirits. Untuk film yang terakhir dibuat dua kali, yakni waktu buka puasa bersama dan pemutaran di FPPK/Create Festival.

Keuntungan penyelenggaraan acara ini bagi GRI adalah 1) “jalan mudah” yang bisa dinikmati oleh khalayak umum, dan kesempatan yang baik untuk mendorong orang untuk membaca bukunya yang memang tersedia. 2) momentumnya bisa disesuaikan dengan terbitnya/tersedianya versi buku di pasaran.

Sedang kekurangannya adalah 1) tidak mudah menemukan film dan buku yang tepat untuk ditonton karena kendalanya adalah durasi. Film yang cukup pendek dan ringan jauh lebih sedikit daripada film yang panjang. 2) peralatan untuk menonton (proyektor dan layar) yang harus tergantung pada ketersediaan dan kesediaan anggota GRI untuk meminjamkan.

Kegiatan lain yang perlu mendapat catatan adalah kegiatan Jelajah Buku. Pada MATA GRI 2009 direncanakan ada dua kali pelaksanaan Jelajah Buku, Jelajah Giganto 2 dan Jelajah Batavia Abad ke-20. Namun hanya Jelajah Giganto 2 saja yang terlaksana. Sedang yang kedua, diputuskan untuk dibatalkan karena waktunya terlalu dekat dan akan mengganggu persiapan Festival Pembaca Indonesia (IRF).

Untuk kegiatan Jelajah Giganto 2, saya memberikan catatan khusus. Berbeda dengan kegiatan Jelajah Giganto 1, pelaksanaan yang kedua menjadi spesial karena GRI membarenginya dengan kegiatan sosial untuk anak-anak usia sekolah. Masukan dari survei internal GRI mencantumkan harapan agar GRI menjangkau juga anak-anak usia sekolah (pembaca pemula) agar mencintai membaca dan formulasi pelaksanaan kegiatan Jelajah Giganto 2 dapat menjadi model kegiatan yang dapat menjadi rujukan GRI di kemudian hari. Karena dari kegiatan ini tampak jelas bagaimana anak-anak usia sekolah menikmati “serunya” kegiatan membaca lewat aktivitas jelajah dan belajar yang sangat kaya inspirasi. Respon dari anak-anak yang ikut dalam Jelajah Giganto 2 juga luar biasa karena mereka menilai acaranya bermanfaat, menarik, dan mereka menantikan kegiatan serupa di kemudian hari. Di samping itu, karena ini juga merupakan kegiatan sosial, anggota GRI banyak yang aktif terlibat baik sebagai penyumbang maupun sebagai penyelenggara.

Yang juga penting untuk diberikan catatan adalah gairah pertemuan kota yang telah dilakukan di Bandung, Yogyakarta, dan Malang. Terbukti benar bahwa proses tatap muka yang intens antara para pembaca aktif akan membuat setiap kota mampu merumuskan kegiatan yang tepat bagi pembaca yang menjadi anggotanya. Dari ketiga kota ini, GRI di kota-kota lain dapat belajar bahwa pengakomodasian kebutuhan pembaca di tingkatan kota akan mampu menjadi pengikat dan roh dari kegiatan GRI itu sendiri.

Selain daftar kegiatan di atas, ada sejumlah kegiatan yang berada di luar kegiatan internal. Yang pertama akan diungkapkan adalah kegiatan “On Air with GRI”. Selama tahun 2010 tim siaran sudah mengudara secara rutin setiap bulan di acara Pro Resensi RRI Pro2. Jadwalnya adalah di minggu pertama, mulai jam 14.00-15.00 WIB. Siaran ini merupakan bentuk kegiatan sosialisasi yang dapat digunakan untuk mengkampanyekan serunya membaca ke luar GRI sekaligus memperkenalkan GRI dan kegiatannya ke masyarakat umum. Untuk mendukung siaran, GRI telah melatih 5 anggota GRI lewat workshop radio bersama trainer terlatih. Namun masih ada kendala yang dihadapi: 1) Jadwal anggota tim siaran yang beragam, sehingga akhirnya dibagi menjadi dua tim. Pembagian ini juga terkait terlalu besarnya tim siaran. 2) Hasil sosialisasi belum dapat diukur efeknya secara langsung.

Catatan kedua adalah kegiatan kampanye penolakan pelarangan buku. Terkait dengan dikeluarkannya surat keputusan Kejagung yang melarang peredaran lima judul buku (Desember 2009), GRI mengeluarkan pernyataan sikap menolak pelarangan buku dan ikut dalam kampanye bersama. Hasilnya adalah rangkaian roadshow radio di RRI, RPK, dan VHR, kegiatan pameran, serta diskusi di Taman Ismail Marzuki. Kendalanya adalah kegiatan ini dilakukan nyaris tanpa persiapan memadai mengingat isunya juga mendadak, namun GRI menjadi komunitas pembaca paling aktif dalam menyuarakan penolakan pelarangan buku. Ketika akhirnya kebijakan diskriminatif itu dicabut, hal ini menjadi kemenangan bersama yang amat manis buat GRI.

Catatan ketiga adalah berkaitan dengan kegiatan kerjasama konten dengan rubrik seni budaya portal indonesiaseni.com dan rubrik “Jendela Buku” harian Media Indonesia. Keuntungan dari kegiatan ini adalah 1) GRI mempunyai wadah untuk menampung anggota GRI yang ingin mengapresiasi buku secara lebih intens 2) Kehadiran GRI mulai dikenal luas. 3) Penetrasi pesan yang dibawa GRI dengan selalu kritis saat memberi pertimbangan sebuah buku.

Catatan keempat terkait dengan kegiatan sosial, terutama menyediakan buku-buku bagi taman bacaan/perpustakaan. Keuntungan GRI adalah 1) Pembaca bisa benar-benar menunjukkan kepedulian kepada sesama. 2) Menunjukkan komitmen GRI untuk membuka diri (non-eksklusif) dan membangun masyarakat. Kendalanya adalah GRI bukan organisasi yang berfokus pada penyumbangan buku. Kesulitan datang saat harus melakukan pemilahan dan pengiriman buku. Selama ini dan untuk selanjutnya, kegiatan penyaluran bantuan buku akan dilakukan dengan mekanisme, bila buku tersedia akan segera dikirim.

Catatan kelima terkait dengan kegiatan World Book Day. Tahun 2010 merupakan tahun kedua keikutsertaan GRI dalam kegiatan Forum Indonesia Membaca ini. Keuntungan untuk GRI adalah 1) GRI dibebaskan untuk mengatur acara sendiri. 2) WBD merupakan forum yang tepat bagi GRI untuk bisa menunjukkan jati diri sebagai komunitas pembaca ke komunitas literasi lain. Kendalanya adalah 1) tidak tersedianya stand dibanding WBD 2009. 2) koordinasi dengan Forum Indonesia Membaca minim sehingga simpang siur.

Catatan keenam terkait dengan pengelolaan dana GRI. Ini menyangkut pemasukan GRI dari merchandise dan kartu anggota serta pengeluaran rutin GRI terkait Rumah GRI. Karena ini juga terkait dengan pihak kedua seperti SNP (untuk merchandise) dan toko buku/penerbit (untuk kartu anggota), maka ada keuntungan untuk GRI: 1) GRI bukan pihak yang harus mengeluarkan biaya awal karena SNP dan toko buku/penerbit adalah pihak yang menanggungnya. 2) Hasilnya bisa dinikmati oleh pembaca dan untuk pembaca. Hanya saja dalam pelaksanaan terbentur banyak kendala, seperti 1) Lambatnya proses lobi untuk kerjasama dengan pihak kedua. 2) Kesulitan pengelolaan keuangan yang membutuhkan ketelitian. 3) Kesulitan untuk berjualan.

Catatan terakhir yang akan saya tuliskan adalah terkait dengan Festival Pembaca Indonesia. Sejak dalam perancangan di MATA 2009, IRF merupakan kegiatan yang diharapkan menjadi puncak dari seluruh rangkaian kegiatan GRI. Namun dapat dikatakan di sini bahwa IRF bukan saja menjadi puncak, tetapi juga merupakan kegiatan yang memperbaharui dunia perbukuan Indonesia. Kuatnya dukungan dari pembaca, media massa dan praktisi perbukuan dalam IRF telah menjadikan kegiatan ini sebagai “menara” penting bagi GRI. Tentu saja kekurangan ada dimana-mana karena ini kali pertama GRI menggelar IRF, namun GRI boleh berbesar hati karena luasnya tanggapan positif yang didapatkan lewat kegiatan IRF ini.

Demikian seluruh catatan yang menurut saya penting untuk dibagikan.


Yogyakarta, 29 Desember 2010
Final AFF Indonesia vs Malaysia

13/12/10

Pemenang Anugerah Pembaca Indonesia 2010

Kepada masyarakat pembaca yang terhormat,

Selama bulan September – Oktober 2010, panitia Anugerah Pembaca Indonesia telah menyeleksi lebih dari 12.000 buku hasil karya penulis Indonesia yang terdata dalam pangkalan data goodreads.com yang terbit sejak 2009 – 2010 (untuk kategori buku Fiksi dan Non-Fiksi) dan sejak 2008 – 2010 (untuk kategori buku Puisi dan Komik Indonesia).

Polling dibuka sejak 3 – 30 November 2010 dan selama polling, panitia Anugerah Pembaca Indonesia menerima total 7.629 suara pembaca yang ikut ambil bagian ikut memilih 10 buku di setiap kategori (Fiksi, Non-Fiksi, Puisi, dan Komik, serta Sampul Buku)

Pemberian Anugerah Pembaca Indonesia 2010 telah dilakukan pada 5 Desember 2010 lalu, sebagai penutup dari Festival Pembaca Indonesia 2010, yang dihadiri oleh para penulis, penerbit, dan tentu saja pembaca buku yang merayakan hidup dengan membaca.

Berikut adalah para peraih Anugerah Pembaca Indonesia 2010:

Pemenang Kategori Buku & Penulis Fiksi Terfavorit:
Negeri Lima Menara, karya Ahmad Fuadi

Pemenang Kategori Buku & Penulis Non-Fiksi Terfavorit
I Can (not) Hear, karya Feby Indirani dan San C. Wirakusuma
Pemenang Kategori Buku & Penulis Puisi Terfavorit
Kolam, karya Sapardi Djoko Damono

Pemenang Kategori Buku & Penulis Komik Indonesia Terfavorit
Benny & Mice: Lost in Bali 2, karya Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad

Pemenang Kategori Sampul Buku Fiksi Terfavorit
Kebun Angan, untuk buku Perahu Kertas

Pemenang Kategori Sampul Buku Non-Fiksi Terfavorit
SindikArt, untuk buku Long Distance Love


Pemenang Kategori Sampul Buku Puisi Terfavorit
Tika B Nirwanjaya, untuk buku Ruang Lengang: Kumpulan Puisi


Pemenang Kategori Sampul Komik Indonesia Terfavorit
Benny Rachmadi dan Muhammad Mirsad, untuk buku Benny& Mice: Lost in Bali 2


Press Release API 2010 dan hasil lengkap Shortlist Polling Anugerah Pembaca Indonesia dapat diunduh di: http://bit.ly/hXGhCe

10/08/10

---- Selamat Menjalankan Ibadah Puasa ---



Goodreaders,

Tidak terasa Ramadhan akan datang lagi. Alhamdulillah kita masih bisa menikmati dan diberikan kesempatan oleh yang Maha Kuasa untuk menjalankan ibadah puasa.

Maka sebelum lupa, izinkan kami selaku manusia yang tidak sempurna, memohon maaf apabila melakukan kesalahan baik itu yang disengaja maupun tidak disengaja. Bukakanlah pintu maaf sebesar-besarnya.

Semoga ibadah puasa kita berjalan dengan baik dan diterima oleh Allah SWT. Bagi GRI-ers yang menjalankan ibadah puasa, selamat menjalankannya.


salam buku,

Segenap moderator & koordinator khusus 2010
Goodreads Indonesia

Moderator: Mia Fiona Erlita, Roos Wijayanti, Sukma Rezany, Wirotomo Soetojo, Aldo Zirzov, Amang Suramang, Harun Harahap, Lita Soerjadinata
Koordinator Khusus: Jimmy Simanungkalit, Dahlia S, Truly Rudiono, Palupi Saesti

31/12/09

Catatan Akhir Tahun Goodreads Indonesia 2009

Catatan Akhir Tahun Goodreads Indonesia 2009:
Disatukan Oleh Buku, Bersama-sama Berbuat Untuk Buku
oleh Amang Suramang


TAHUN 2009 merupakan tahun kedua kiprah Goodreads Indonesia di dunia perbukuan. Kita telah melampaui target mencapai 1% atau sekitar 2.500 anggota dari total masyarakat Indonesia. Tepatnya per Desember 2009 ini jumlah anggota Goodreads Indonesia telah mencapai lebih dari 3.000 anggota. Para anggota ini terdiri dari pembaca, penulis, dan penerbit. Suatu hal yang patut dicatat juga bahwa di tahun 2009 ini, hubungan antara pembaca, penerbit, penulis menjadi lebih baik. Cirinya dapat ditemui dengan mudah: penulis bisa lebih mudah bertemu pembacanya (dan sebaliknya) dan para penerbit bisa berdialog langsung dengan para pembaca, entah untuk memperkenalkan suatu buku atau hanya sekedar mengobrol seputar dunia perbukuan.

Secara kronologis, dapat dibeberkan kepada kita semua, hal-hal apa saja yang sudah dilakukan Goodreads Indonesia selama tahun 2009 ini. Seluruh kegiatan ini mulanya diawali oleh karena kesukaan yang sama atas membaca buku dan mendorong tindakan kolektif untuk mewujudkan rasa suka itu.

1. Jelajah Rahasia Meede 2 - 25 Januari 2009
Sukses pelaksanaan di tahun 2008, membuat kegiatan ini diadopsi oleh penerbit Hikmah untuk diteruskan menjadi bagian dari kegiatan sosial mereka. Kali ini diikuti oleh 150 peserta.

2. Goodreads Indonesia Makassar (Kopdar 3) - 15 Februari 2009
Para pembaca di Makassar mulai berkumpul dan bergiat.

3. Tribut untuk Legenda yang Terlupakan - 25 Februari 2009
Apresiasi atas kerja keras para penulis senior Nh. Dini dan R.A. Kosasih. Acara ini sukses berkat bekerjasama dengan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Komik Indonesia, Gagas Media.

4. Goodreads Indonesia @ World Book Day 2009 – 23 April s/d 17 Mei 2009
Goodreads Indonesia terlibat dalam kegiatan book on the street hingga pameran komunitas dan mendapat sorotan khusus dari media atas kegiatan book swap-nya.

5. Peluncuran buku "Para Penggila Buku: 100 Catatan di Balik Buku" - 20 Mei 2009
Bekerjasama dengan iboekoe dan Kubugil, Goodreads Indonesia ikut merancang dan menyemarakkan acara ini dengan diskusi/bedah buku.

6. HUT 2 Tahun Goodreads Indonesia – Juli s/d September 2009
Masing-masing anggota GRI di di Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Cirebon mulai saling berkenalan dan merumuskan kebutuhan setiap kota.

7. Peluncuran buku "Live Through This” – 8 Agustus 2009
Bekerjasama dengan Redline Publishing menyusun acara dengan diskusi/bedah buku.

8. Mencari Bintangmu di Langit – 30 Agustus 2009
Bekerjasama dengan LAPAN dan penerbit Kanisius menggelar pemutaran film dan perbincangan buku "Menjelajah Tata Surya" karya Gunawan Admiranto. Dihadiri oleh 200 siswa Sekolah Menengah.

9. Karaoke Bareng 1 & 2 - 2009
Atas inisiatif Silvana, terbukti para pembaca bukan hanya aktif baca, tapi juga aktif bernyanyi.

10. Jelajah Giganto - 14 November 2009
Bekerjasama dengan BOS dan KEA/Penerbit Edelweis menjelajahi Pusat Primata Schmutzer Ragunan bersama penulis "Giganto" Koen Setyawan. Diikuti oleh 30 peserta.

11. Kampanye "Bangun Kembali dengan Buku" – Oktober-Desember 2009
Kegiatan amal untuk membantu para korban gempa di Sumatera dengan cara mengumpulkan buku, dana, dan peralatan sekolah dan dikirimkan untuk membantu Perpustakaan Daerah Padang dan SDN 18 Bungkus, Padang. Disokong oleh bantuan banyak pihak seperti Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, toko buku MP Bookpoint, Seven Heaven, Potluck, komunitas penulis Perkosakata, FixiMix, dan lain-lain.

12. Temu Akhir Tahun GRI Bandung - 26 Desember 2009
Para pembaca di Bandung berkumpul lagi dan melahirkan sejumlah usulan kegiatan selanjutnya.

Selain itu pada tahun 2009 ini, Goodreads Indonesia sudah berhasil merumuskan kebutuhan anggota, sehingga bisa menentukan secara bersama-sama mana kegiatan yang disepakati untuk dilanjutkan dan mana yang tidak lewat Survei Online Goodreads Indonesia dan pelaksanaan Musyawarah Akhir Tahun Goodreads Indonesia (MATA GRI) yang berhasil melakukan evaluasi, penetapan kegiatan di tahun 2010, hingga pemilihan moderator baru untuk tahun kerja 2010.

Dinamika di dalam Goodreads Indonesia sendiri naik dan turun selama tahun 2009 ini. Selain yang manis-manis, kita juga merasakan bahwa kualitas diskusi menurun meski banyak topik baru bermunculan namun umumnya topik-topik itu hanya bertahan sebentar, sebelum akhirnya berlanjut tidak serius. Pergesekan hubungan yang mengarah ke perseteruan, meski tidak terlihat sejelas tahun 2008 juga terjadi dengan menyisakan penyesalan yang mungkin sudah terlambat. Namun secara pasti, semua kejadian manis dan pahit ini akan memperkaya komunitas ini menjadi komunitas yang dewasa, selain sehat dan bermartabat.

Seiring banyaknya kegiatan yang dilakukan Goodreads Indonesia, masyarakat menjadi lebih apresiatif atas apa yang sudah dilakukan Goodreads Indonesia, yang memberi sinyalemen bahwa kegiatan Goodreads Indonesia tidak melulu eksklusif hanya bagi anggotanya, tetapi juga melebur dan bermakna bagi kehidupan masyarakat. Apresiasi masyarakat tampak pada pelbagai liputan Goodreads Indonesia yang muncul di berbagai media, mulai cetak, televisi, hingga online.

1. TVOne, 5 Januari 2009, program Halo Indonesia, berbicara tentang trend buku 2009

2. RRI Pro2 FM, Pro Resensi, 15 Februari 2009, wawancara langsung tentang Goodreads Indonesia dan minat baca di Indonesia

3. The Jakarta Post, 17 Mei 2009, mengulas tentang bookswap dan keterlibatan GRI di World Book Day 2009

4. Majalah Fit, Mei 2009

5. TVOne, Apakabar Indonesia, September 2009

6. RPKFM, Program You and The City, 31 Oktober 2009, wawancara tentang Goodreads Indonesia dan kampanye "Bangun Kembali dengan Buku"

7. RPKFM, Feature, 19 November 2009, wawancara tentang relawan buku.

8. Rakyat Merdeka Online, News, 28 Desember 2009, wawancara tentang pelarangan buku.


TANTANGAN MASA DEPAN

Tahapan konsolidasi Goodreads Indonesia sudah berjalan, Goodreads Indonesia akan melangkah ke tahapan selanjutnya yakni tahap sosialisasi. Di tahapan sosialisasi, diharapkan Goodreads Indonesia bisa lebih menyebarkan keaktifan membaca, keaktifan berbuat bersama-sama untuk buku, keaktifan berbuat amal yang sejalan dengan visi dan misi Goodreads Indonesia menjadi pembaca aktif dalam dunia perbukuan di Indonesia.

Menjaga Goodreads Indonesia menjadi komunitas yang sehat, bermartabat dan dewasa adalah tantangan yang harus dijawab di masa depan, bukan saja oleh jajaran Moderator 2010 tetapi juga oleh seluruh anggota komunitas ini.

Atas nama moderator dan co-moderator 2009, serta mewakili jajaran moderator 2010, saya ucapkan "Selamat tahun baru 2010! Selamat membaca, selamat menjadi bagian dari para pembaca aktif yang akan mengubah wajah perbukuan di Indonesia."


Semarang-Jakarta, 27-31 Desember 2009

30/12/09

Pernyataan Sikap Goodreads Indonesia atas Pelarangan Buku

Pelarangan Buku & Penarikan Buku dari Peredaran Merugikan Pembaca dan Melanggar Hak Pembaca


Pada 23 Desember 2009, Kejaksaan Agung mengumumkan pelarangan lima judul buku yang dianggap ‘mengganggu ketertiban umum’, yakni pertama, Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto karya John Rosa. Kedua, Suara Gereja bagi Umat Tertindas: Penderitaan Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri karya Cocratez Sofyan Yoman. Ketiga, Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 karya Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan. Keempat, Enam Jalan Menuju Tuhan karya Darmawan. Kelima, Mengungkap Misteri Keberagaman Agama karya Syahrudin Ahmad. Selain itu, di kurun waktu yang sama juga terjadi penarikan buku Membongkar Gurita Cikeas karya George Junus Aditjondro dari peredaran. Pelarangan dan penarikan buku ini merupakan satu dari banyak kejadian serupa dengan yang selama ini sudah seringkali terjadi di Indonesia.

Di bawah Undang-Undang Nomor 4/PNPS/1963 tentang pengamanan terhadap barang-barang cetakan dan pasal 30 (c) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Pokok-Pokok Kejaksaan Republik Indonesia, sudah lebih daripada 2.000 buku pernah dilarang di Indonesia, mulai dari novel, studi sejarah, ajaran agama, buku-buku mengenai kontroversi sosial-politik, termasuk karya-karya tulis tentang gerakan sosial awal abad 20, teologi liberal, hingga naiknya Asia sebagai pusat kapitalisme global. (Laporan Human Rights Watch dalam "Academic Freedom in Indonesia: Dismantling Soeharto-Era Barriers", Book Censorship, hal. 58).

Kita tidak lupa bahwa sebelum kejadian ini buku kisah perjalanan semacam The Naked Traveler karya Trinity pun pernah dilarang terbit. Penulis dan penerbitnya diharuskan Kejaksaan Agung menghapus tiga bab bila ingin buku itu diterbitkan lagi. Lalu pada 31 Oktober 2008, buku HM Misbach: Kisah Haji Merah karya Nor Hikmah juga ditarik dari peredaran setelah pihak kejaksaan merazia toko buku Gramedia Matraman, Jakarta Timur. Itu belum termasuk sejumlah buku lain yang sudah dilarang oleh Kejaksaan Agung sebelumnya, antara lain:

· Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik, Vol. I karya Harry A. Poeze,
· Di Bawah Lentera Merah karya Soe Hok Gie,
· Sang Pemula karya Pramoedya Ananta Toer,
· A Story of Indonesian Culture karya Joebaar Ajoeb,
· The Devious Dalang: Sukarno and the So-Called Untung Putsch karya Bambang S. Widjanarko,
· Amerika Serikat dan Penggulingan Soekarno karya Peter Dale Scott,
· Primadosa: Wimanjaya dan Rakyat Indonesia Menggugat Imperium Soeharto karya Wimanjaya K. Liotohe,
· Kehormatan Bagi yang Berhak: Bung Karno Tidak Terlibat G30S PKI karya Manai Sophiaan,
· Nyanyi Sunyi Seorang Bisu karya Pramoedya Ananta Toer,
· Memoar Oei Tjoe Tat karya Oei Tjoe Tat.

Hampir dapat dipastikan, selama Kejaksaan Agung masih memiliki kewenangan berdasarkan kedua UU yang berlaku, di masa depan pelarangan dan penarikan buku dari peredaran tidak akan berhenti.

Menanggapi peristiwa pelarangan buku dan penarikan buku dari peredaran ini, kami berpandangan bahwa Kejaksaan Agung tidak perlu turut campur dengan mengambil tindakan-tindakan yang telah disebutkan di atas. Pelarangan buku dan penarikan buku dari peredaran telah merampas hak atas informasi yang merupakan bagian dari hak asasi para pembaca. Alasan yang diajukan Kejaksaan Agung bahwa pelarangan buku-buku ini dilakukan berdasarkan muatan di dalam buku, yang dianggap mengganggu ketertiban umum, tanpa penjelasan terbuka kepada masyarakat, kami pandang tidak memiliki argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Para pembacalah yang seharusnya memberikan penilaian tersebut karena para pembaca aktif telah mampu berpikir, memilih dan memilah sesuai dengan kepentingan masing-masing mana bacaan yang berguna dan mana yang mengganggu. Dalam pandangan kami, pola berpikir atau argumentasi yang menganggap bahwa masyarakat itu bodoh dan perlu dibimbing terus-menerus harus ditanggalkan karena sudah tidak relevan lagi. Kami juga berpandangan bahwa pelarangan buku dan penarikan buku dari peredaran hanya mengajarkan ketakutan dan kepicikan dalam menghadapi keberagaman pemikiran. Kalaupun ada yang tak setuju pada isi buku-buku tertentu, seharusnya pihak tersebut mempublikasikan pendapat tandingan bukan malahan melarang. Perlakukanlah buku sebagai komoditi intelektual dengan melakukan debat publik atas buku yang bersangkutan bila tidak berkenan. Biarlah masyarakat pembaca yang menilai buku mana yang lebih layak dipercaya isinya.

Berdasarkan apa yang dikemukakan di atas, Goodreads Indonesia menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Menentang keras dan mendesak dihentikannya upaya-upaya pelarangan, pembatasan, pencekalan buku, penarikan buku dari peredaran yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung, karena tindakan itu telah merugikan pembaca dan melanggar hak atas informasi, yang merupakan bagian dari hak asasi para pembaca.

2. Mendesak pencabutan kewenangan Kejaksaan Agung dalam pengamanan terhadap barang-barang cetakan dan dan pengawasan peredaran barang cetakan, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 4/PNPS/1963 dan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004.

3. Mendesak dikembalikannya fungsi pengawasan dan pengamanan kepada para pembaca karena pembaca aktif telah mampu berpikir, memilih dan memilah informasi dari buku-buku yang terbit. Biarkan kami, masyarakat pembaca aktif ini, yang menilai buku-buku yang kami baca, dan bukan Kejaksaan Agung.


Jakarta, 30 Desember 2009


Goodreads Indonesia
http://www.goodreads.com/group/show/345....
mirror site: http://bacaituseru.blogspot.com
email: goodreads.indonesia@gmail.com
0813 1050 9220

09/10/08

Artikel 1/3: Profil Goodreads Indonesia di Kompas 5 Okt 08

Kami Tidak Pandang Buku
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/05/01455467/kami.tidak.pandang.buku

Minggu, 5 Oktober 2008
Lusiana Indriasari



Buku adalah gudang ilmu dan membaca adalah kuncinya. Agar semakin banyak orang gemar membaca buku, komunitas pencinta buku Goodreads Indonesia aktif mengadakan kegiatan baca buku bersama.

Sesekali mereka juga menapak tilas dari buku berlatar belakang sejarah. Salah satu buku yang memberi gagasan itu adalah novel fiksi Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC karya ES Ito.

Demi menelusuri tempat bersejarah yang disebut-sebut dalam buku itu, Goodreads Indonesia menggandeng komunitas Sahabat Museum dan Jakarta’s Bookworms. Mereka lalu melakukan perjalanan mulai dari Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) hingga ke Pulau Onrust di Kepulauan Seribu.

Minggu (3/8) lalu, sekitar 350 orang dari berbagai usia berkumpul di Museum Fatahillah. Dengan 12 kapal tongkang sewaan mereka lalu berlayar ke Pulau Onrust.

Tidak lupa sang penulis novel, ES Ito, pun diajak serta. Ada juga pakar sejarah Jakarta, Alwi Shihab, dan Lilie Suratminto, penulis buku Makna Sosio Historis Batu Nisan VOC di Batavia.

Sambil menelusuri tempat-tempat bersejarah itu peserta asyik mendengarkan cerita di balik tempat bersejarah yang dikunjungi dari Alwi Shihab dan Lilie.

”Setelah membaca bukunya, kami ingin melihat langsung tempat bersejarah itu,” kata Amang Suramang, salah satu moderator komunitas Goodreads Indonesia.

Museum Fatahillah dipilih sebagai tempat berkumpul karena dalam Rahasia Meede, ES Ito menulis ada terowongan tua di Jakarta yang pintu masuknya berada di dalam Museum Fatahillah. Rute terowongan itu diyakini menuju tempat persembunyian emas VOC.

Rak buku
Komunitas Goodreads sebenarnya adalah komunitas baca internasional yang digagas Otis Chandler pada tahun 2007. Otis adalah pemilik perusahaan penerbitan di Amerika Serikat yang juga menerbitkan Los Angeles Times.

Pada bulan Juni tahun 2007, pencinta buku di Indonesia, Femmy Syahrani, membentuk grup di situs internet Goodreads internasional dan dikenal dengan nama Goodreads Indonesia. Sekarang komunitas ini digawangi lima moderator, yaitu Femmy, Amang, Roos, Lita, dan Gieb. Anggota komunitas Goodreads Indonesia kini sudah mencapai lebih dari 1.190 orang.

Di situs Goodreads Indonesia, masing-masing anggota memiliki ”rak buku” dan memajang koleksi buku yang mereka miliki. Saat mengeklik profil anggota, langsung terpampang deretan buku yang mereka miliki, lengkap dengan pemeringkatannya. ”Kalau ada yang berminat dan sudah saling kenal, bisa tukar-tukaran baca,” kata Amang yang punya koleksi 515 buku, termasuk tiga buku yang dilarang beredar di dalam negeri.

Menonton bersama
Oleh komunitas Goodreads Indonesia, membaca dibuat menjadi kegiatan menyenangkan. Selain melakukan kegiatan membaca bersama yang periode bacanya ditentukan, komunitas ini juga melengkapi imajinasi mereka dengan nonton film bersama.

Banyak buku yang sudah difilmkan menjadi santapan bagi para pencinta buku Goodreads Indonesia. Film-film yang beredar di pasaran seperti Harry Potter, Narnia, atau Laskar Pelangi yang diangkat dari buku sudah pasti menarik bagi anggota Goodreads Indonesia.

Selain menonton di bioskop, anggota komunitas juga menonton film-film dari DVD atau VCD. Sebagian film itu sudah sulit diperoleh di pasaran. ”Kami pernah nonton bersama film To Kill a Mocking Bird versi hitam-putih,” kata Gieb (30). Novel To Kill a Mocking Bird karya Harper Lee ini diangkat ke layar lebar tahun 1962 dan dibintangi aktor kawakan Gregory Peck.

Film-film zaman dulu ini dimiliki Aldo, salah satu anggota Goodreads Indonesia. Selain gemar mengoleksi buku, Aldo juga dikenal gemar mengoleksi film.

Meski usianya baru 1,5 tahun, tetapi komunitas pencinta buku ini termasuk yang paling aktif berkegiatan dibandingkan komunitas serupa lainnya. Dengan berinteraksi di dunia maya, mereka menggelar kegiatan baca buku bersama, lomba meresensi buku, dan diskusi buku.

Melalui dunia maya, mereka juga menggalang relawan untuk mengaktifkan perpustakaan di sekitar pembaca dengan membentuk wadah Sobat Perpus.

Rencananya Sobat Perpus akan mendata perpustakaan mana saja yang perlu dihidupkan lagi lalu mencari donasi untuk berkegiatan di perpustakaan tersebut atau untuk menambah koleksi buku.

”Kami bercita-cita membangun budaya membaca di masyarakat kita,” kata Amang. Dengan beragam kegiatannya, komunitas Goodreads Indonesia mencoba membentuk diri menjadi pembaca aktif. Mereka tidak ingin sekadar membaca buku lalu buku itu disimpan di rak setelah selesai dibaca.

Simak tekad mereka seperti tertulis di situs http://www.goodreads.com/group/show/345.Indonesia.

”Kami hidup untuk membaca buku. Buku apa saja boleh dibaca. Buku apa saja boleh dibicarakan. Pokoknya kami tidak pandang buku. Yang terpenting bagi kami, di milis ini kami bisa berbagi gagasan, pemikiran, dan perasaan dengan teman-teman sesama kutu buku.”

Artikel 2/3: Profil Goodreads Indonesia di Kompas 5 Okt 08

Pergaulan
Bukan Kutu Buku yang Kuper
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/05/01453298/bukan.kutu.buku.yang.kuper



"Meski kami kutu buku, tetapi kami bukan kutu buku pendiam atau kutu buku kuper (kurang pergaulan),” kata Monic (30-an), anggota komunitas Goodreads Indonesia di sebuah kafe di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Anggota komunitas ini, Senin (22/9), berkumpul untuk buka puasa bersama. Dengan kacamata tebalnya, Monic memang tampak seperti kutu buku seperti dicitrakan banyak orang. Akan tetapi, perempuan yang mempunyai usaha perkebunan ini jauh dari kesan pendiam.

”Saya senang ikut komunitas semacam Goodreads ini karena membuat saya tidak menjadi kuper,” tutur Monic.

Dengan ikut Goodreads Indonesia, Monic juga menjadi lebih terpacu rajin membaca buku. Biasanya, untuk buku setebal 300 halaman, misalnya, Monic membutuhkan waktu hampir satu bulan membacanya. Setelah ikut Goodreads ia bisa membaca buku setebal 500 halaman dalam waktu dua minggu.

Fara, anggota lain, juga merasakan manfaat bergabung dengan komunitas pencinta buku. Selama ini Fara kalau pergi ke toko buku selalu kebingungan memilih buku mana yang bagus dan enak dibaca.

”Saya selalu lapar mata. Ingin membeli banyak buku yang dipajang di rak toko buku, padahal belum tentu isinya bagus semua,” kata Fara yang sekarang bisa melihat resensi buku yang dibuat teman-temannya sebelum memutuskan membeli buku. Cara itu dianggap lebih hemat.

Bergabung dengan komunitas yang anggotanya punya kesamaan hobi dianggap menyenangkan karena mereka merasa satu hati sehingga lebih mudah menjalin pertemanan.

”Kami boleh berdiskusi sengit menanggapi satu buku. Ada pro dan kontra, tetapi setelah diskusi selesai kami berteman lagi,” tutur Gieb yang juga menjadi salah satu moderator Goodreads Indonesia.

Gieb bercerita, ketika muncul buku Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy, anggota komunitas ini terlibat perdebatan sengit. Ada yang memuji karya Habiburrahman, tetapi banyak pula yang mengkritik karena mengusung tema poligami.

”Kalau diskusinya sudah menjurus ke saling caci maki, moderator langsung menghentikan,” kata Gieb. (IND)

Artikel 3/3: Profil Goodreads Indonesia di Kompas 5 Okt 08

Perburuan
Buku Langka, Buku Bekas, Buku Diskon
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/05/0144431/buku.langka.buku.bekas.buku.diskon



Selain buku baru, buku-buku bekas juga menjadi incaran pencinta buku Goodreads Indonesia. Motivasi mereka biasanya karena ingin mendapat buku-buku lama yang langka.

Karena banyak yang hobi berburu buku bekas, komunitas Goodreads Indonesia membuat daftar tempat berburu buku bekas (juga baru) di Indonesia. Beberapa surga tempat mencari buku bekas adalah di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Malang.

”Rencananya kami akan pergi ke Malang untuk mencari buku bersama,” tutur Gieb. Selain mencari buku, anggota komunitas ini juga akan berwisata di kota yang sejuk itu. Di Malang, kios-kios buku bekas ini ada di Jalan Wilis yang sebelumnya berada di Jalan Majapahit.

Selain pergi ke kios buku bekas, sebagian anggota komunitas Goodreads Indonesia mencari buku-buku di tempat persewaan buku. Jika ada buku yang diincar, mereka lalu mengajukan diri untuk membeli buku tersebut. Kebanyakan buku-buku yang bisa didapat di tempat penyewaan buku ini adalah buku-buku cerita silat.

Diskon buku
Namanya juga pencinta buku, barang yang paling diincar untuk dibeli tentunya buku. Karena gemar membeli buku, komunitas semacam ini sering menjadi target penerbit untuk memasarkan buku-buku baru.

Penerbit besar seperti Kepustakaan Populer Gramedia sering menginformasikan buku baru terbitan mereka. Selain buku baru, Penerbit Serambi juga sering menginformasikan acara pesta diskon.

”Kami di sini bukan menjadi kaki tangan penerbit. Kami hanya menyebarkan informasi agar pencinta buku tahu ke mana harus mencari buku,” kata Amang.

Ajang diskon buku memang selalu ditunggu-tunggu para pencinta buku ini. Ninus (26), anggota Goodreads Indonesia, senang sekali bisa memborong buku pada acara pesta diskon.

Dengan uang Rp 100.000 ia bisa memborong tujuh novel tebal yang bagus-bagus. Saking tebalnya, kata Ninus, buku itu bisa buat ganjal meja makan di rumah. (IND)

05/08/08

Siaran Pers: Sudah Saatnya Pembaca Aktif

Dari sebuah komunitas bisa lahir berbagai rupa produk budaya: pentas kesenian, diskusi, atribut identitas, dan lain-lain. Bahkan komunitas-komunitas yang bermula bersifat maya –berangkat dari milis atau sebuah blog- bisa tumbuh menghasilkan berbagai kegiatan yang nyata.

Goodreads Indonesia adalah jaringan komunitas pembaca internasional yang memungkinkan orang tahu rak buku pribadi orang lain (yang telah, sedang, dan akan dibaca). Sekarang, Goodreads Indonesia mempunyai anggota mencapai 1.100 orang.

Selama setahun ini, sebagai komunitas pembaca, Goodreads Indonesia berusaha untuk selalu berperan aktif dalam dunia perbukuan di Indonesia. Tidak hanya sebagai komunitas pembaca pasif, keberadaan Goodreads Indonesia diharapkan bisa menjadi jembatan antara pembaca, penulis, dan penerbit. Hal ini terwujud dalam berbagai program yang dirancang Goodreads Indonesia; ketemu sama penulis, baca buku bareng, nobar film based on book, atau napak tilas cerita buku sejarah. Seperti yang akan kita lakukan pada Minggu, 3 Agustus 2008 ini. Dengan menggandeng penerbit Hikmah, Sahabat Museum, dan penulis buku Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC, E.S Ito, Goodreads Indonesia menggelar kegiatan Plesiran Toempoe Doeloe: Misteri Harta Karun VOC di Pulau Onrust?.

Kegiatan ini adalah kegiatan untuk menjelajahi setiap tempat yang menjadi setting dalam buku Rahasia Meede. Mulai dari Museum Fatahillah dan sekitarnya, Dasaad Musin Building, pelabuhan Sunda Kelapa, sampai ke Benteng VOC di pulau Onrust. Selain itu, Alwi Shahab yang menulis Betawi Queen of The East dan seorang sejarawan sekaligus penulis Makna Sosio-Historis Batu Nisan VOC di Pulau Onrust Lilie Suratminto juga menjadi narasumber melengkapi kegiatan ini.

Kegiatan ini lahir dan tumbuh dalam kesadaran akan sebuah hutang budaya. Yakni, bagaimana membangun budaya membaca yang solid dan mengakar, yang kukuh dan lestari. Walau kecil, semoga itu menjadi urun dalam cita-cita lama kita: mencerdaskan kehidupan bangsa.


Tentang Goodreads Indonesia: Membaca Bersama Itu Seru!
http://www.goodreads.com/group/show/345.Indonesia

* Jaringan komunitas pembaca internasional yang memungkinkan orang mengetahui rak buku pribadi orang lain; yang telah, sedang, atau akan dibaca.
* Anggota Goodreads Indonesia sudah mencapai 1.100 orang.
* Kegiatan yang rutin dilakukan:
1. Baca buku bareng
2. Nominasi buku terbaik setiap bulan
3. Nonton film bareng berdasarkan sebuah buku.
4. Tukar menukar buku (bookswap)

* Keuntungan bergabung dengan Goodreads Indonesia
1. Mengetahui berita terkini dari penerbit.
2. Sebagai referensi untuk membeli sebuah buku, karena bisa melihat review buku yang bersangkutan terlebih dahulu.
3. Bisa menulis review tentang sebuah buku dengan bebas.
4. Diskusi buku dari segala genre.
5. Menambah teman yang mempunyai hobi sama.

(end)